• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

About me

Let me introduce myself


A bit about me

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Profile

Herwin Ariwin

Personal info

Herwin Ariwin

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore.

Birthday: 20 JUNE 1999
Phone number: +6289676767589
Website: www.herwin-ariwin.com
E-mail: ariwinh@gmail.com

RESUME

Know more about my past


Employment

  • 2015-future

    Mutation Media @ Web Developer

    Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

  • 2011-2014

    Websoham @ Exclusive Admin

    Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

  • 2009-2011

    Templateclue.com @ Lead Developer

    Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Education

  • 2015

    University of Engineering @Level

    Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

  • 2013-2014

    College of Awesomeness @ passed

    Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

  • 2009-2013

    College of Informatics @ graduated

    Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Skills & Things about me

photographer
86%
html & css
Punctual
91%
illustrator
Web Developer
64%
wordpress

Portfolio

My latest projects


Friday, 3 August 2018

Represif : Penyeragaman Pakaian dan Pikiran

Dalam wajah instansi pendidikan, sekolah di negeri ini, kita sudah sejak dini dibentuk dan diprogramkan untuk seragam dalam pakaian, harus patuh terhadap program itu tanpa bertanya kenapa. Seolah kita ini robot, yang menjalankan semua perintah sesuai program. Seolah kita ini bukan manusia, kreativitas dalam membentuk pribadi dan selera pun menjadi terkurung, pokoknya semuanya harus nurut.
Mind and Heart : http://theinevitablebusiness.com/wp-content/uploads/2017/04/mind-and-heart.jpg

Katanya, semangat pendidikan di negara ini sudah lepas bahkan memusnahkan segala bentuk kolonialisme. Alih-alih mengutuk penjajah, dalam prakteknya menyeragamkan keunikan individu. Jangankan pakaian, pikiran pun sudah diseragamkan, kita diajar untuk menjawab soal bukan dari pikiran sendiri dan jawabannya hanya dapat nilai 100% jika menjawab 100% sesuai dengan sumber yang sudah ditentukan guru.

Tak masalah dengan buku yang disarankan, tapi masih ada banyak jawaban lain yang bisa didapatkan selain satu buku. Satu sumber menjadi acuan untuk sekedar mendapatkan nilai 100%, kreativitas siswa menjadi tumpul. Kita tidak diajar untuk berpikir bebas dengan tanggung jawab dan menanggung konsekuensi, kita malah dibentuk dengan mental budak karena takut diberi nilai rendah dan stigma negatif.

Jika semua siswa berpikir sama, berpikirnya seragam, maka sama saja tidak ada kebebasan berpikir, karena setiap pikiran siswa itu beragam, bukan seragam.

Saya jadi teringat pada malam kemarin, saya menulis hal yang serupa di buku adik saya, bagian belakang, dengan sepercik kegelisahan saya dan harapan terhadap adik saya ke depannya.

Wednesday, 18 July 2018

Karena Kata Ilmiah Tak Cukup Buat Berkualitas

Idiom dalam terma interdisipliner itu hanya menunjukkan bentuk, dimana bentuk itu tidak selalu memiliki korelasi dengan apa yang ada di dalam bentuk itu sendiri. Kadang-kadang saya merasa arogan dengan pembendaharaan kata yang telah dipehuni dalam pikiran. Terkadang saya juga tidak tahu untuk apa semua kosa kata yang kata orang awam adalah kata-kata ilmiah yang dapat menaikkan status sosial individu dalam semua lingkungan yang membentuknya, strata sosial yang didapatkan atas kekayaan pembendaharaan kata itu sebenarnya tidak begitu perlu.

Karena terkadang istilah-istilah imliah tidak menunjukkan kualitas yang mudah dipahami oleh banyak orang pada umumnya. Dan betapa dongkolnya ketika saya menggunakan kata-kata ilmiah itu sebagai bahasa sehari-hari bak pengganti bahasa ibu dalam sebuah lingkungan yang saya hidupi bersama individu-individu lainnya dalam bentuk kelompok.

Pada akhirnya, saya menyadari satu hal bahwa penjelasan yang menggunakan kata-kata ilmiah dihadapan banyak orang, khususnya dalam kehidupan sosial yang berkaitan dengan orang sekitar, tidak begitu bermutu tinggi, yang terlihat justru kesombongan atas apa yang tersimpan dalam pikiran saya.

Tentu saja saya tidak menyukai bentuk kesombongan dalam bentuk apa pun. Ketika saya berkomunikasi dengan orang sekitar, terkadang yang mendengarkan tidak memahami apa yang sedang saya katakan. Dengan begitu saya gagal dalam sebuah komunikasi karena lawan bicara saya tidak dapat menangkap inti dari apa yang saya katakan secara verbal.

Justru dengan kata-kata ilmiah yang saya gunakan sebagai bahasa sehari-hari membuat orang lain menjadi semakin tidak mengerti. Saya merasa seperti membebek, kwek kwek kwek, seperti membeo tanpa tahu apa yang saya katakan karena hanya meniru gaya bahasa orang-orang yang katanya paling berjasa dan dihormati bagi banyak orang.

Setidaknya, menggunakan bahasa yang sehari-hari sebagaimana banyak orang, mampu dijelaskan dengan sederhana dalam setiap komunikasi antara individu-individu ataupun kelompok dimana pun tempatnya, termasuk di sosial media dan blog ini.

Yang terpenting dari itu adalah, bagaimana supaya orang yang berpotensi mendengarkan dan membaca atas apa yang kita bicarakan dan tuliskan dapat menjangkau semua orang dan semua yang dijangkau itu setidaknya dapat mengerti apa yang kita sampaikan kepada mereka secara langsung tanpa harus dijelaskan berulang kali.

Terkadang akhir-akhir ini, merefleksikan hal itu dalam setiap interaksi saya dengan orang-orang membuat saya kembali berpikir untuk menyederhanakan sesuatu yang dulunya rumit untuk dicerna dan dipahami. Walaupun dalam proses penyederhanaan itu tidak semudah melihat dan mendengarkan apa yang telah terucap dan tertulis. Sebagaimana dalam sebuah pecahan, yang dapat rumit bisa disederhanakan dengan sesederhana mungkin supaya mudah dipahami.

Tapi apakah, pembaca tulisan ini dapat mencerna atas apa yang saya tuliskan diatas? Jika belum, maka saya telah gagal menyampaikannya dengan sederhana. Walaupun begitu, saya akan tetap kembali untuk menyederhanakannya walaupun begitu sulit bagi saya. 

Kegagalan bukan sesuatu yang selesai, mungkin saja berhenti. Namun berhenti bukanlah sesuatu yang telah selesai. Keberhentian selalu ada kemungkinan untuk melanjutkan apa yang belum selesai. Dan tulisan itu pun belum selesai, hanya saja saya telah mengakhirinya dan saya belum gagal, karena kemungkinan itu terus ada hingga tiba saatnya saya selesai tanpa menyelesaikannya secara utuh.

Dan terima kasih telah membaca tulisan yang belum selesai ini!

Monday, 4 June 2018

Kualitas diri seseorang tidak selalu koheren dengan identitas yang ia gunakan, karena identitas tanpa sisi fungsional pragmatis secara simultan akan mereduksi kualitas diri tersebut. Kualitas tidak mengadakan dirinya sendiri tanpa perilaku seseorang, justru sebaliknya.

Namun bagaimana pun juga pemberian nilai pada perilaku seseorang kembali pada sang pemberi nilai yang berarti bahwa kualitas itu relatif. Akan tetapi jika nilai-nilai itu diberikan oleh moralitas normatif tertentu maka ia akan bersentuhan langsung dengan interpersonal yang berada didalamnya sehingga ada tuntutan imperatif untuk dipatuhi secara kolektif.

Oleh karenanya identitas merupakan konstruksi sosiokultural tertentu dimana identitas itu dibentuk bukan dari konsensus interpersonal yang bersebrangan dengan nilai-nilai yang telah diterima secara umum dalam lingkungan yang terbatas tersebut, sehingga identitas bersifat arbitrer oleh kelompok yang terikat dalam identitas ilusif itu sendiri.

Dalam mempertahankan eksistensi identitas yang seolah telah diletakkan pada diri kelompok tertentu, maka akan selalu ada doktrin radikal untuk memperjuangkan identitas tersebut sebagai tujuan utamanya padahal di lain sisi identitas itu bersifat pasif.

Manusia sebagai sang pengada, dengan segala kreativitasnya dalam menciptakan konsep identitas adalah subjek yang aktif dalam sebuah identitas. Karena identitas tidak lahir secara alamiah, walaupun penciptaan identitas tersebut melalui kondisi mental alamiah manusia.

Artinya segala hal yang abstrak, tersebut identitas, adalah ciptaan manusia sebagai makhluk yang penuh dengan absurditas kehidupannya. Karena manusia secara instingtif mempertahankan dirinya dalam homogenitas.

Sebenarnya identitas ini bukan persoalan yang esensial, namun terkadang manusianya saja yang menganggap bahwa ketika ia telah menjadi bagian dari identitas tertentu maka ia secara otomatis predikat yang dilekatkan pada identitas tersebut secara historis akan terintegrasi dengan predikat tersebut. Padahal predikat itu hanyalah sebatas klaim internal dalam kelompoknya sendiri yang bersifat eksklusif.

Ketika ada seorang manusia yang menganggap dirinya heroik ketika menggunakan identitas sebagai suatu hal yang sakral dalam dirinya sendiri maka akan menyamakan dirinya seperti persamaan linear yang saling terikat satu sama lain; antara subjek dan identitas.

Sehingga ketika ada seseorang yang mengatakan hal sebaliknya dengan predikat identitas kelompoknya maka dengan kemelekatan pada identitas kelompok tersebut akan membuatnya marah dan kemudian melawannya secara sentimental yang berujung ad hominem.

Tuesday, 15 May 2018

Pengalaman Perjalanan Survai di Desa Pundata, Kelurahan Baji, Kabupaten Pangkep

Sebelum menceritakan pengalaman saya pribadi bersama teman-teman saya sendiri dalam perjalanan menuju lokasi sebagaimana yang telah menjadi kesepakatan kami bersama untuk melakukan survai lapangan mengenai pemahaman masyarakat pesisir tentang narasi UUD 1945, Pancasila, Proklamasi dan Sumpah Pemuda, pertama-tama saya akan memperkenalkan diri masing-masing yang akan melakukan survai guna memenuhi kewajiban sekaligus rekreasi pada lokasi survai

Perkenalkan nama saya Herwin Ariwin perwakilan dari kelompok 5, dan anggota kelompok kami lainnya ada Nasrifah, Aswan Sudarmo, Febry Maryani Yatu dan Hafidz. Secara umum, berdasarkan pilihan acak, semua kelompok yang ada di kelas PTIK C 2017 mendapatkan lokasi survai yang telah ditentukan oleh dosen pengampu sehingga setiap kelompok mendapatkan lokasi yang berbeda dan kami mendapatkan tugas survai lapangan pada masyarakat Pesisir dan saya mendapatkan teks Proklamasi sebagai dasar survai pribadi. Berangkat dari itu, kami telah memakan banyak waktu dalam menentukan tempat yang akan kami pilih untuk dijadikan acuan pada survai lapangan. Sehingga pada akhirnya kami sepakat untuk ke daerah Pangkep sebagai lokasi survai kelompok kami.

Sebelum berangkat ke lokasi pada hari itu tanggal 27 April 2018, anggota kelompok kami sepakat untuk berkumpul di depan Kost Fajrianti atau sering disebut Ririn, namun pada hari itu kami berkumpul pada sore hari dimana langit sudah terlihat biru kehitam-hitaman dan awan mulai berwarna merah menandakan pergantian sore dengan malam. Sebelum berangkat pada lokasi tempat berkumpulnya anggota kelompok kami, teman saya Hafiz datang menemui saya di kost saya sendiri karena jarak antara kost saya dengan kost Ririn sangat dekat. Hafiz datang ke kost saya pada saat saya sedang ketiduran karena hari itu saya sangat lelah sehingga membutuhkan istirahat secukupnya guna menyehatkan tubuh yang lelah.

Setelah itu, saya meminta Hafiz untuk lebih dahulu menunggu saya di pos ronda, tempat yang biasanya kami tempati untuk beristirahat dan nongkrong ketika dosen belum masuk di kelas dan juga ketika perkuliahan selesai, pos ronda tersebut tepat berada di depan kost Ririn. Kemudian saya pergi ke toilet untuk mencuci muka karena baru saja bangun dari tempat tidur karena raut wajah yang terlihat kurang bersemangat terlihat jelas ketika seseorang baru saja bangun dari tidurnya.

Sebelum menuju ke lokasi tempat berkumpulnya kelompok kami, saya menyempatkan diri untuk makan dan minum terlebih dahulu untuk mendapatkan energi yang cukup karena saya memprediksi perjalanan menuju ke lokasi penginapan survai memakan banyak waktu sehingga makan sebelum berangkat adalah solusi bagi saya supaya tidak kelaparan saat perjalanan. Setelah itu, saya langsung mengganti pakaian dan pergi ke depan kost Ririn dimana teman-teman saya dan anggota kelompok saya sebagian sudah ada disana ketika saya datang. Saat kali pertama saya datang ke pos ronda, ternyata disana bukan hanya anggota kelompok kami yang ada disana. Disana ada kelompok lain selain kelompok kami, dan ternyata mereka juga sepakat untuk melakukan survai di daerah Pangkep namun mereka tidak mendapatkan tugas yang sama dengan apa yang kelompok kami dapatkan.

Kami menunggu lama di pos ronda tersebut mengingat teman-teman kami yang akan melakukan survai lapangan bukan hanya anggota kelompok 5 tetapi ada anggota kelompok lainnya sehingga kami harus menunggu teman-teman kami yang belum sempat hadir dengan waktu yang telah disepakati sebelumnya. Karena pada waktu itu, kami sepakat untuk berkumpul di post ronda tepat pada pukul 15.00 akan tetapi hal itu tidak berjalan sebagaimana yang telah kami sepakati. Hal yang memang mengecewakan jika keterlambatan pada waktu yang telah disepakati tidak ditepati sesuai kesepakatan bersama, namun apa boleh buat, toh kita harus tetap menunggu hingga anggota kelompok kami lengkap. Mengingat bukan hanya kelompok kami yang ada pada waktu itu, kami bukan hanya menunggu lama anggota kelompok kami tetapi juga menunggu anggota kelompok lainnya yang belum datang tepat waktu. Sehingga menyiakan banyak waktu untuk hal itu, karena kami sudah merasa bosan menunggu lama, akhirnya kami juga banyak waktu untuk mengingat apa saja yang belum kami persiapkan untuk melakukan survay termasuk membeli beberapa kebutuhan primer seperti makanan ringan dan minuman sebelum berangkat.

Setelah sekian lamanya menunggu teman-teman kami datang di pos ronda akhirnya teman-teman yang tadinya belum datang di pos ronda juga telah tiba di pos ronda namun ada beberapa teman lainnya yang sudah datang tapi tidak ada di pos ronda karena pergi membeli makanan dan minuman sehingga kami kembali menunggu beberapa menit hingga semua anggota kelompok tiba di pot ronda tersebut. Tidak lama kemudian semua anggota kelompok kami dan anggota kelompok lainnya sudah lengkap, akan tetapi hari sudah sore hari ditemani oleh suara adzan magrib mengingatkan kaum muslimin dan muslimat wajib untuk melakukan ritual ibadah. Akhirnya kami menuju mesjid terdekat guna mendekatkan diri kepadaNya sekaligus berdoa meminta petunjuk dan keselamatan dalam perjalanan menuju tempat penginapan kami di daerah Pangkep. Setelah melakukan ibadah shalat magrib, kami kembali berkumpul bukan di pos ronda tetapi berkumpul di depan mesjid Nurul Muhajirin.

Sebelum berangkat kami kembali menyesuaikan dengan siapa kami naik di kendaraan mengingat ada beberapa teman yang kondisinya pada saat itu kurang sehat sehingga dianggap perlu untuk menentukan siapa yang mengemudi kendaraan dan siapa yang di bonceng pada saat itu. Setelah mengatur itu kami semua berangkat menuju lokasi tetapi kami terlebih dahulu mengisi bahan bakar minyak pada masing-masing kendaraan supaya pada saat di tengah perjalanan tidak lagi singgah di Pertamina sekaligus mengecek kondisi ban motor apakah perlu untuk diisi oksigen atau tidak namun kondisi ban motor sepertinya sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.

Pada saat diperjalan, perjalanan waktu itu tidak cukup jauh dari lokasi berangkat kami. Waktu itu kami berada di tengah macetnya perjalanan sehingga kecepatan kendaraan sangat lambat. Macet diperjalanan mulai dari jalan A. Pettarani sampai Daya membuat kami kelelahan padahal perjalanan kami waktu itu masih jauh dari lokasi penginapan kami. Namun pada kemacetan tersebut membuat kami terpisah dari teman-teman lainnya karena banyaknya kendaraan membuat kami sulit melihat teman-teman kami diantara banyaknya kendaraan yang terjebak dalam kemacetan tersebut. Di sela kemacetan saya dan Mahfudz, anggota dari kelompok lain yang pada waktu itu membonceng saya, singgah di depan kampus STIMIK Dipanegara untuk menunggu teman-teman kami yang dari tadi tidak pernah lagi kelihatan semenjak kemacetan terjadi.

Setelah singgah di depan kampus STIMIK Dipanegara ternyata ada beberapa teman yang melihat kami singgah dan mereka yang sempat melihat kami singgah akhirnya singgah sementara waktu. Karena kami berpikir waktu itu bahwa kami harus saling menunggu satu sama lain dalam perjalanan, sehingga teman yang tidak singgah pada waktu itu membuat kami khawatir apakah mereka masih jauh di belakang kami itu terjebak dalam kemacetan atau sudah mendahului kami. Kami tidak tahu apakah mereka masih di belakang kami atau sudah jauh di depan kami, akhirnya kami mencoba menguhubungi mereka melalui WhatsApp namun berkali-kali tidak ada jawaban dari mereka. Sekitar 20 menit lamanya kami menunggu namun teman kami yang lain belum juga ada kepastian posisi mereka, akhirnya kami asumsikan bahwa mereka sudah jauh di depan kami sehingga kami yang singgah pada waktu itu kembali melanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian di tengah perjalanan kami melihat teman kami yang lainnya, teman yang dari tadi kami tunggu ternyata juga menunggu kami di depan Pertamina Maros. Akhirnya kami kembali singgah menemui mereka dan menceritakan kekhawatiran kami atas perjalanan mereka. Setelah itu, suara adzan isya kembali terdengar di telinga kami. Akhirnya kami menuju ke sumber toa yang dekat dari Pertamina, kami shalat di Masjid Agung daerah Maros. Setelah ibadah kami kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai ke rumah teman kami, Ririn, dimana Ririn pada saat itu sudah berapa di rumahnya.

Pada waktu kami telah tiba di rumah Ririn, rumah yang akan menjadi tempat penginapan kami selama proses survai berlangsung. Pada kali pertama kami tiba di rumah Ririn, kami disambut oleh keluarganya dengan gembira dan meminta kami untuk keatas untuk istirahat. Pada saat kami semua keatas, ternyata berbagai jenis makanan telah dipersiapkan diatas meja. Yang menandakan bahwa makanan tersebut secara khusus ditujukan kepada kami untuk dicicipi, alih-alih istirahat ternyata secara implisit meminta kami untuk makan terlebih dahulu. Akhirnya kami makan bersama, namun teman kami yang bernama Zulfikar selaku ketua tingkat di kelas PTIK C 2017 ternyata lupa mengambil arlojinya pada saat wudhu di Mesjid Agung Maros sehingga membuat dia tidak ikut makan ketika kami memanggilnya berkali-kali. Kemudian saya menyarakankan kepada Zulfikar sambil saya makan pada waktu itu untuk mencari informasi mengenai kontak pengurus Mesjid Agung Maros yang dapat dihubungi melalui percarian di google. Karena kami merasa bahwa makan bersama itu dianggap penting, akhirnya kami terkesan memaksa Zulfikar untuk makan bersama kami hingga akhirnya Zulfikar mau makan.

Setelah selesai makan bersama teman-teman kami, ternyata Zulfikar kembali memikirkan arlojinya. Kata Zulfikar arloji itu sangat penting dalam hidupnya namun kami tidak menanyakan arloji itu pemberian dari siapa sehingga arlogi itu begitu penting baginya. Namun pada waktu itu Zulfikar nekat untuk kembali lagi ke Mesjid Agung Maros untuk mengambil arlojinya, namun kami meminta untuk tidak kembali ke Mesjid Agung Maros karena mengingat perjalanan kembali kesana itu memakan waktu yang lama dan jam di rumah Ririn juga sudah menunjukkan pukul 20 lewat 30 menit lebih yang menandakan sudah larut malam untuk kembali kesana. Akhirnya niat Zulfikar untuk kembali ke Mesjid Agung Maros tidak dilanjutkan. Sehingga kami kembali bercerita bersama teman-teman kami selama perjalanan. Namun disela cerita tersebut akhirnya saya ketiduran karena kondisi pada waktu itu saya sangat lelah.

Pada hari pertama kami berada di rumah Ririn, matahari sudah menyinari rumah Ririn hingga masuk ke cela jendela mengingatkan kami bahwa hari sudah pagi dan kami juga harus berangkat mandi untuk segera menuju ke lokasi survai kami. Sebelum berangkat, kami kembali disuguhi sarapan pagi oleh keluarga Ririn sehingga kami makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke lokasi survai. Setelah sarapan pagi, kami bersiap-siap dan mempersiapkan barang apa saja yang akan kami perlukan pada saat survei.

Gbr. 1 : Foto Bersama Ayahanda Rusli saat tiba di pelabuhan daerah pesisir.

Hari itu tanggal 28 April 2018 kami berangkat ke lokasi survai bersama Ayah Ririn, Syukron Kurniawan dan juga teman kelompok kami. Kemudian kami menuju ke lokasi daerah pesisir yang ada di Kabupaten Pangkep. Perjalanan menuju lokasi lumayan jauh, karena memakan waktu sekitar 30 menit lamanya. Sebelum melakukan survai pada masyarakat pesisir kami menuju ke suatu pelabuhan daerah pesisir tersebut pagi siang hari. Cahaya matahari begitu panas, namun panorama daerah pelabuhan itu cukup indah sehingga kami menyempatkan diri untuk foto bersama sebagai dokumentasi.

Setelah sekian menit berada di pelabuhan tersebut akhirnya kami memutuskan untuk kembali untuk mencari masyarakat yang akan menjadi responden kami. Pada perjalanan, kami bertemu dengan teman SMA dari Ayah Ririn. Akhirnya kami diminta untuk berkunjung ke rumahnya sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga beliau, sehingga kami langsung ke rumah beliau. Kami di suguhi berbagai macam kue dan minuman, mengingat perut mulai memberontak akhirnya saya memakan kue dan minum minuman yang telah disediakan kepada kami. Disela makan dan minum kami cukup banyak mendengar cerita oleh tuan rumah dan juga Ayah Ririn mengenai masyarakat pesisir yang ada disini, satu hal yang penting dari cerita tersebut bahwa masyarakat pesisir daerah tersebut tidak begitu terlalu paham bahasa Indonesia sehingga hanya ada beberapa orang di daerah tersebut yang fasih berbahasa Indonesia.

Pada akhirnya kami meminta izin kepada teman SMA Ayah Ririn dan juga kepada Ayah Ririn untuk memulai kegiatan survai kami, dan kami diizinkan kepada mereka untuk memulainya. Akhirnya kami memulai survai tersebut pada tetangga teman SMA Ayah Ririn. Setelah sekian banyaknya responden kami, tanpa sadar kami telah melakukan perjalanan yang cukup panjang dimana pada waktu itu kami hanya jalan kaki saat melakukan survai sehingga membutuhkan banyak tenaga untuk terus melanjutkan perjalanan. Dan akhirnya kami sepakat untuk menggunakan kendaraan dalam melakukan survai karena tidak semua rumah kami masuki, kami cukup selektif dalam memilih responden. Responden kami pilih hanya responden yang tengah beraktivitas di sekitar halaman rumah sehingga masyarakat yang berada di dalam rumahnya tidak kami survai. Dengan berbagai cara kami lakukan untuk mendapatkan jawaban dari responden, bahkan saya membeli beberapa minuman atau permen hanya untuk menjalankan survai ini jika responden tersebut adalah pemilik toko atau orang-orang yang ada disekitar toko tersebut.

Setelah kami mendapatkan 20 responden dengan berbagai macam cara dan juga telah memenuhi syarat survai dengan interval umur yang telah ditentukan akhirnya kami kembali ke rumah teman SMA Ayah Ririn. Dan kembali bercerita sedikit hal kepada mereka dan kemudian kami meminta pamit dan berterima kasih yang sebesar-besarnya telah membantu dalam memenuhi kewajiban kami. Akhirnya kami kembali lagi ke rumah Ririn di sore hari.

Setelah kami sampai di rumah Ririn ternyata kelompok lainnya belum tiba di rumah Ririn, namun sekitar puluhan menit kedepan ternyata mereka sudah tiba. Kemudian kami kembali disuguhi makanan, namun kami belum makan waktu itu karena asyik bercerita bersama teman-teman, setelah itu kami kembali makan bersama. Mengingat hari itu sudah mulai sore menuju malam dan juga mengingat pada hari itu adalah malam minggu akhirnya kami berniat untuk keluar menikmati indahnya suasana malam minggu di kota Pangkep.

Setelah kami menikmati malam minggu akhirnya kami kembali ke rumah Ririn dan kemudian mempersiapkan kembali barang masing-masing yang akan dibawa pulang memingat esok hari kami akan pulang ke Makassar dan juga patungan bersama teman-teman untuk membeli kepiting untuk keluarga Ririn sebagai tanda terima kasih kami telah banyak membantu kami dan kami juga merasa telah merepotkan keluarga Ririn waktu itu. Kemudian esok hari telah tiba, matahari kembali menyinari kaca jendela Ririn sehingga memantulkan cahaya tersebut kedalam rumah, menandakan bahwa hari ini telah pagi. Akhirnya kami kembali mandi secara bergiliran dan setelah semuanya mandi pagi ternyata kami kembali disuguhi sarapan pagi sebelum kembali berangkat ke Makassar. Setelah menikmati makanan, kami memohon pamit kepada keluarga Ririn untuk kembali ke Makassar sambil memberikan kepiting kepadanya sebagai tanda terima kasih kami dan kami diminta kembali berkunjung ke kediaman beliau jika sempat melewati rumah beliau saat perjalanan dimana pun kami pergi. Dan setelah izin pamit kami berangkat menuju ke Makassar bersama teman-teman.

Gbr. 2 : Foto bersama sebelum berangkat pulang kembali ke Makassar

Pada saat perjalanan pulang ke Makassar, kecepatan laju kendaraan sangat jauh berbeda dengan kecepatan saat kami berangkat ke Pangkep. Hal ini disebabkan karena kendaraan pada pagi hari tidak sepadat kendaraan pada sore hari dan juga penglihatan kami begitu jelas pada jalanan sehingga kecepatan laju kendaraan begitu cepat. Dengan demikian perjalanan kami menuju Makassar hanya memakan waktu dua kali lebih cepat dari pada perjalanan kami menuju Pangkep. Walaupun demikian cepatnya kendaraan tidak membuat kami tidak terpisah dari teman-teman lainnya, justru karena kecepatan tersebut membuat kami agak jauh terpisah dari teman lainnya. Sehingga ketika teman kami mengalami hambatan atau masalah pada kendaraannya seperti ban motor kempes membuat kami tidak tahu akan hal itu. Dan kami menyadari bahwa beberapa teman kami tertinggal jauh dari kami pada saat kami telah sampai pada titik dimana kami semula berkumpul sebelum berangkat ke Pangkep, yakni pos ronda di depan kost Ririn. Berangkat dari itu, saya adalah orang pertama yang sampai pada tujuan bersama Faiz. Namun saya menunggu cukup lama teman-teman yang lainnya karena mengalami masalah pada ban motornya, dan tak lama kemudian, satu persatu teman-teman kami akhirnya tiba di lokasi. Setelah berkumpul bersama teman-teman, kami kembali bercerita untuk melepaskan lelahnya perjalanan selama 2 hari 3 malam lamannya selama proses kegiatan survai ini dimulai dan berakhir. Mengingat waktu sudah hampir siang, kami semua pun pamit untuk kembali ke rumah masing-masing.

Friday, 2 February 2018

Kenapa Teis Masih Mempertanyakan Soal Kehidupan Kepada Ateis? Padahal Sudah Punya Pegangan Sendiri

Bam..tujuan pembuatan grup ini apa?
Trus bagi yg msih theis knapa mau aja bertanya soal kehidupan dan solusi kepada kaum ateis,kan lu pada udh punya kitab.
Gw jawab pertanyaan yang kedua saja ya, menurut gw pribadi dengan mempertanyakan sesuatu yang sifatnya sangat private apalagi bertanya tentang dinamika kehidupan dari seorang atheist.

Memang hal ini, mungkin terlalu berlebihan jika dikatakan atheist itu menyimpang dari masyarakat kita pada umumnya berdasarkan prinsip kehidupan personal. Karena hal yang menyimpang dari masyarakat adalah hal-hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya, namun mayoritas dalam pandangan hidup sekaligus pegangan untuk hidup sama sekali bukan alasan rasional mengenai kualitas, karena konsensus dalam bentuk apapun itu hanyalah mengenai kuantitas.

Kalau bertanya soal solusi kepada seseorang yang kebetulan orang itu adalah seorang atheist tanpa pedoman kitab suci, namun atheist tentu memiliki prinsip dasar masing-masing tentang kehidupan. Theist terkadang walaupun tidak semua masalah harus konsultasi ke atheist, atheist itu bukan solusi atas segala permasalahan. Mungkin saja atheist itu kalau ngasih solusi ya rasional, misalnya soal ketimpangan sosial-ekonomi, kalau theist biasanya nyuruh buat bersabar dan bersabar karena dirinya sedang diuji oleh Tuhannya, walaupun tidak semua theist hanya melakukan kesabaran atas masalah yang dihadapi.

Menurutku soal bagaimana cara menghadapi dinamika kehidupan dihadapan kita tidak ada hubungannya dengan latar belakang atheist ataupun theist, namun jika ada dogmatisasi tentang bagaimana cara menghadapi realita maka itulah yang dimintai kebebasan untuk memilih solusi.

Kalau ada theist yang --- punya manual book --- bertanya mengenai solusi tentang masalah yang dihadapinya saat ini di zaman modern, dan juga katanya dalam kitab suci itu segalanya sudah ada bahkan solusinya sudah ada bahkan kitab itu dianggap sakral oleh orang-orang tertentu sehingga dipercaya dapat memberikan solusi terbaik dari segala solusi karena solusi yang ditawarkan dalam kitab suci itu dipercaya adalah kata-kata Tuhan lepas dari benar atau tidaknya, lha ini kan soal imani saja toh.

Kemungkinan juga theist yang ---- punya manual book --- bertanya mengenai solusi tentang masalah yang dihadapinya saat ini dengan kesadarannya (subjektif) sendiri bahwa solusi itu sudah tidak tepat lagi pada peradaban sekarang ini, yang artinya solusi yang ditawarkan kitab suci yang digenggamnya saat ini tidak relevan dengan peradaban saat ini. Ya memang kitab manapun juga terikat dalam historisnya masing-masing.

Soal solusi umum dari pengalaman pribadi dari teman-teman theist kadang masih terbelenggu dengan dunia mistik yang irasional sehingga solusi yang diberikan berorientasi pada pengaitan suatu masalah dengan masalah lainnya yang sama sekali tidak ada hubungannya, dalam hal ini sebab-akibat yang tidak masuk akal. Namun, perlu dicatat bahwa masyarakat takhayul dan masyarakat ilmiah adalah perbedaan yang mencolok dari solusi yang ditawarkan mengenai permasalahan yang dihadapi lepas dari latar belakangnya apakah dia atheist atau theist.

Services

What can I do


Branding

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Web Design

Quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Donec sit amet venenatis ligula. Aenean sed augue scelerisque.

Graphic Design

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident.

Development

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident.

Photography

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod. Donec sit amet venenatis ligula. Aenean sed augue scelerisque, dapibus risus sit amet.

User Experience

Quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Donec sit amet venenatis ligula. Aenean sed augue scelerisque, dapibus risus sit amet.

Contact

Get in touch with me


Adress/Street

Uloe, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Indonesia

Phone number

+6289676767589

Website

www.herwin-ariwin.com