Idiom dalam terma interdisipliner
itu hanya menunjukkan bentuk, dimana bentuk itu tidak selalu memiliki
korelasi dengan apa yang ada di dalam bentuk itu sendiri. Kadang-kadang
saya merasa arogan dengan pembendaharaan kata yang telah dipehuni dalam
pikiran. Terkadang saya juga tidak tahu untuk apa semua kosa kata yang
kata orang awam adalah kata-kata ilmiah yang dapat menaikkan status
sosial individu dalam semua lingkungan yang membentuknya, strata sosial
yang didapatkan atas kekayaan pembendaharaan kata itu sebenarnya tidak
begitu perlu.
Karena terkadang istilah-istilah
imliah tidak menunjukkan kualitas yang mudah dipahami oleh banyak orang
pada umumnya. Dan betapa dongkolnya ketika saya menggunakan kata-kata
ilmiah itu sebagai bahasa sehari-hari bak pengganti bahasa ibu dalam
sebuah lingkungan yang saya hidupi bersama individu-indivi du lainnya dalam bentuk kelompok.
Pada akhirnya, saya menyadari satu hal bahwa penjelasan yang menggunakan kata-kata ilmiah dihadapan banyak orang, khususnya dalam kehidupan sosial yang berkaitan dengan orang sekitar, tidak begitu bermutu tinggi, yang terlihat justru kesombongan atas apa yang tersimpan dalam pikiran saya.
Tentu saja saya tidak menyukai bentuk kesombongan dalam bentuk apa pun. Ketika saya berkomunikasi dengan orang sekitar, terkadang yang mendengarkan tidak memahami apa yang sedang saya katakan. Dengan begitu saya gagal dalam sebuah komunikasi karena lawan bicara saya tidak dapat menangkap inti dari apa yang saya katakan secara verbal.
Justru dengan kata-kata ilmiah yang saya gunakan sebagai bahasa sehari-hari membuat orang lain menjadi semakin tidak mengerti. Saya merasa seperti membebek, kwek kwek kwek, seperti membeo tanpa tahu apa yang saya katakan karena hanya meniru gaya bahasa orang-orang yang katanya paling berjasa dan dihormati bagi banyak orang.
Setidaknya, menggunakan bahasa yang sehari-hari sebagaimana banyak orang, mampu dijelaskan dengan sederhana dalam setiap komunikasi antara individu-indivi du ataupun kelompok dimana pun tempatnya, termasuk di sosial media dan blog ini.
Yang terpenting dari itu adalah, bagaimana supaya orang yang berpotensi mendengarkan dan membaca atas apa yang kita bicarakan dan tuliskan dapat menjangkau semua orang dan semua yang dijangkau itu setidaknya dapat mengerti apa yang kita sampaikan kepada mereka secara langsung tanpa harus dijelaskan berulang kali.
Terkadang akhir-akhir ini, merefleksikan hal itu dalam setiap interaksi saya dengan orang-orang membuat saya kembali berpikir untuk menyederhanakan
sesuatu yang dulunya rumit untuk dicerna dan dipahami. Walaupun dalam
proses penyederhanaan itu tidak semudah melihat dan mendengarkan apa
yang telah terucap dan tertulis. Sebagaimana dalam sebuah pecahan, yang
dapat rumit bisa disederhanakan dengan sesederhana mungkin supaya mudah
dipahami.
Tapi apakah, pembaca tulisan ini dapat mencerna atas apa yang saya tuliskan diatas? Jika belum, maka saya telah gagal menyampaikannya dengan sederhana. Walaupun begitu, saya akan tetap kembali untuk menyederhanakan nya walaupun begitu sulit bagi saya.
Kegagalan bukan sesuatu yang selesai, mungkin saja berhenti. Namun berhenti bukanlah sesuatu yang telah selesai. Keberhentian selalu ada kemungkinan untuk melanjutkan apa yang belum selesai. Dan tulisan itu pun belum selesai, hanya saja saya telah mengakhirinya dan saya belum gagal, karena kemungkinan itu terus ada hingga tiba saatnya saya selesai tanpa menyelesaikanny a secara utuh.
Dan terima kasih telah membaca tulisan yang belum selesai ini!
Karena terkadang istilah-istilah
Pada akhirnya, saya menyadari satu hal bahwa penjelasan yang menggunakan kata-kata ilmiah dihadapan banyak orang, khususnya dalam kehidupan sosial yang berkaitan dengan orang sekitar, tidak begitu bermutu tinggi, yang terlihat justru kesombongan atas apa yang tersimpan dalam pikiran saya.
Tentu saja saya tidak menyukai bentuk kesombongan dalam bentuk apa pun. Ketika saya berkomunikasi dengan orang sekitar, terkadang yang mendengarkan tidak memahami apa yang sedang saya katakan. Dengan begitu saya gagal dalam sebuah komunikasi karena lawan bicara saya tidak dapat menangkap inti dari apa yang saya katakan secara verbal.
Justru dengan kata-kata ilmiah yang saya gunakan sebagai bahasa sehari-hari membuat orang lain menjadi semakin tidak mengerti. Saya merasa seperti membebek, kwek kwek kwek, seperti membeo tanpa tahu apa yang saya katakan karena hanya meniru gaya bahasa orang-orang yang katanya paling berjasa dan dihormati bagi banyak orang.
Setidaknya, menggunakan bahasa yang sehari-hari sebagaimana banyak orang, mampu dijelaskan dengan sederhana dalam setiap komunikasi antara individu-indivi
Yang terpenting dari itu adalah, bagaimana supaya orang yang berpotensi mendengarkan dan membaca atas apa yang kita bicarakan dan tuliskan dapat menjangkau semua orang dan semua yang dijangkau itu setidaknya dapat mengerti apa yang kita sampaikan kepada mereka secara langsung tanpa harus dijelaskan berulang kali.
Terkadang akhir-akhir ini, merefleksikan hal itu dalam setiap interaksi saya dengan orang-orang membuat saya kembali berpikir untuk menyederhanakan
Tapi apakah, pembaca tulisan ini dapat mencerna atas apa yang saya tuliskan diatas? Jika belum, maka saya telah gagal menyampaikannya
Kegagalan bukan sesuatu yang selesai, mungkin saja berhenti. Namun berhenti bukanlah sesuatu yang telah selesai. Keberhentian selalu ada kemungkinan untuk melanjutkan apa yang belum selesai. Dan tulisan itu pun belum selesai, hanya saja saya telah mengakhirinya dan saya belum gagal, karena kemungkinan itu terus ada hingga tiba saatnya saya selesai tanpa menyelesaikanny
Dan terima kasih telah membaca tulisan yang belum selesai ini!

Vint Ceramic Art | TITNIA & TECHNOLOGY
ReplyDeleteExplore goyangfc an all new “Vint Ceramic Art” 바카라 사이트 project on TITNIA & microtouch solo titanium TECHNOLOGY. Our team of 출장샵 sculptors and artists have created new and